SUKAPURA – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Probolinggo turun langsung membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jumat (7/8/2026).
Bersama tim gabungan, PMI ikut berjibaku menangani kobaran api di kawasan Gunung Bromo yang memiliki medan terjal dan sulit dijangkau. Aksi tersebut menjadi bagian dari upaya bersama untuk mengendalikan kebakaran sekaligus meminimalkan dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat.
Operasi penanganan karhutla melibatkan berbagai unsur, mulai dari PMI Provinsi Jawa Timur, PMI Kabupaten Probolinggo, BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD Kabupaten Probolinggo, BPBD Kabupaten Malang, TNI, Polri hingga masyarakat setempat.
Dari PMI Provinsi Jawa Timur, turut hadir Kepala Bidang Penanggulangan Bencana Edi Purwinarto, Kepala Markas PMI Provinsi Jawa Timur beserta staf pelayanan. Sementara PMI Kabupaten Probolinggo menerjunkan Kepala Bidang Organisasi, Komunikasi dan Informasi Soedjono, anggota pengurus Yuliasto, sejumlah staf markas dan relawan.
Dalam operasi tersebut, PMI juga menyiapkan ambulans sebagai bagian dari dukungan terhadap keselamatan dan kebutuhan tim di lapangan.
Selain ambulans PMI Kabupaten Probolinggo, tim gabungan mengerahkan sejumlah sarana pendukung, di antaranya truk tangki air BPBD Kabupaten Probolinggo, truk tangki air BPBD Kabupaten Malang, truk tangki air Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Probolinggo serta drone water bombing milik BPBD Provinsi Jawa Timur.
Penanganan karhutla Bromo tidak mudah. Tim harus menghadapi kondisi geografis berupa perbukitan dan tebing dengan kemiringan mencapai sekitar 70 derajat.
Jarak sumber air yang cukup jauh dari lokasi kebakaran juga menjadi kendala tersendiri. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan tenaga, peralatan dan koordinasi lintas instansi.
Kepala Bidang Organisasi, Komunikasi dan Informasi PMI Kabupaten Probolinggo Soedjono mengatakan keterbatasan sarana menjadi salah satu tantangan dalam operasi pemadaman.
Salah satunya adalah kemampuan drone water bombing yang hanya mampu membawa sekitar 100 liter air dalam satu kali penerbangan. Kapasitas tersebut dinilai belum cukup untuk menangani titik api yang tersebar di sejumlah lokasi.
“Meski demikian, proses pemadaman menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya adalah keterbatasan kapasitas drone yang hanya mampu membawa sekitar 100 liter air dalam sekali penerbangan. Kapasitas tersebut kurang efektif untuk memadamkan titik api yang jumlahnya cukup banyak dan tersebar di berbagai lokasi,” kata Soedjono.
Selain medan terjal, cuaca juga menjadi tantangan bagi petugas dan relawan. Kondisi kering disertai hembusan angin kencang berpotensi mempercepat penyebaran api.
Kabut tebal yang sesekali menyelimuti kawasan pegunungan juga membatasi jarak pandang. Kondisi tersebut turut memengaruhi efektivitas operasi pemadaman, khususnya ketika menggunakan sarana udara.
Di tengah berbagai keterbatasan, PMI Kabupaten Probolinggo tetap memberikan dukungan melalui personel, relawan, sarana maupun logistik yang dimiliki.
Pemadaman manual masih dilakukan oleh tim gabungan pada lokasi yang dapat dijangkau. Sementara drone water bombing digunakan untuk membantu menjangkau titik-titik api yang sulit diakses secara langsung.
Untuk kobaran api yang lebih besar, pemerintah merencanakan pengerahan helikopter water bombing. Penggunaan helikopter diharapkan mampu membawa air dalam kapasitas lebih besar sekaligus menjangkau kawasan yang sulit ditangani melalui jalur darat.
Soedjono menegaskan PMI Kabupaten Probolinggo akan terus bersinergi dengan seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan karhutla.
“PMI Kabupaten Probolinggo bersama seluruh unsur yang terlibat terus bersinergi dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo. Meskipun menghadapi medan yang berat dan berbagai keterbatasan, kami tetap berupaya memberikan dukungan terbaik demi mempercepat penanganan kebakaran serta meminimalkan dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat,” tegasnya.
Menurutnya, kolaborasi menjadi kekuatan penting dalam menghadapi bencana, terutama ketika lokasi terdampak memiliki kondisi geografis yang sulit.
PMI berharap upaya bersama tersebut segera membuahkan hasil sehingga kobaran api dapat dikendalikan dan kawasan konservasi TNBTS tetap terjaga.
“Kolaborasi seluruh unsur menjadi kunci dalam menghadapi bencana ini. Semoga api segera dapat dipadamkan sehingga kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru tetap terjaga kelestariannya dan aktivitas masyarakat maupun sektor pariwisata dapat kembali berjalan normal,” pungkasnya.
Keterlibatan PMI Kabupaten Probolinggo dalam penanganan karhutla Bromo menunjukkan pentingnya solidaritas dan kerja bersama dalam menghadapi bencana. Di tengah medan terjal, cuaca kering dan keterbatasan sarana, relawan serta petugas dari berbagai unsur terus bergerak untuk membantu mengendalikan kebakaran. (*)

0 Comments